Meriam Kuno Di Gedung Juang
Indonesia
telah mengalami masa-masa pahit peperangan dengan negara Belanda dan Jepang
sekitar kurang lebih 350 tahun. Hal ini dimula ketika pasukan expedisi belanda
(VOC) menjalankan misi dagang ke daerah Indonesia dengan mengemban 3 prinsip
utamanya yaitu Gold (Kekayaan), Glory (Kekuasaan), dan Gospel (Peyebaran
Agama). Pada awalnya hal ini dapat diterima oleh sebagian besar kerajaan yang
ada di Indonesia karena perjanjian yang di buat masih dalam keadaan saling
menguntungkan. Namun semua berubah ketika pihak penjajah mulai melakukan
serangkaian kegiatan yang membuat kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara
merasa dirugikan, seperti halnya memonopoli perdagangan.
Beberapa daerah di Indonesia seperti
aceh melakukan perlawanan terhadap hal ini. Berbagai perlawanan di lakukan oleh
kerajaan aceh termasuk dengan menggunakan teknologi perang serperti Meriam.
Namun kekuatan tentara belanda saat itu sudah jauh melampaui kekuatan militer
yang dimiliki oleh rakyat aceh. Ada pun beberapa peralatan perang yang di bawa
oleh pasukan belanda seperti kapal Meriam yang memiliki jarak tembak yang
sangat jauh, artillery yang bisa di pindahkan, ranjau kapal laut, dan senjata
anti pesawat terbang.
Didekat gedung Museum Negeri Aceh
yang ada pada saat ini terdapat suatu bangunan ikonik bersejarah, dimana di
dalamnya terdapat komplek pemakaman Sultan Iskandar Muda yang merupakan raja
yang paling berpengaruh dalam sejarah Kerajaan Aceh. Dan juga terdapat komplek
pemakaman Kandang Meuh. Pada masa
pendudukan Jepang (1942-1945), gedung ini dikuasai tentara Jepang atau yang
dikenal juga dengan sebutan Dai Nippon,
dan kemudian gedung tersebut dijadikan Kantor Pemerintahan Militer Jepang serta
Residen Aceh (Shu-chokan). Lalu, pada
waktu rakyat Aceh mendengar kabar bahwa Soekarno-Hatta telah memproklamirkan
Indonesia maka rakyat Aceh serempak berusaha merebut gedung tersebut dari
militer Jepang. Setelah berhasil direbut, dikibarkanlah Sang Saka Merah Putih
pada 24 Agustus 1945. Simbol dari perjuangan inilah lalu gedung ini dikenal
sebagai Gedung Juang. Pada tahun 1969, gedung ini sempat digunakan sebagai
Kantor BAPERIS (Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda), organisasi tentara yang
bertugas mengelola Museum Aceh saat dipindahkan dari Blang Padang ke lokasi
museum sekarang ini. Sejak itu pula, bangunan tua ini juga dikenal sebagai
Gedung BAPERIS.
Pada gebang ini terdapat beberapa
jenis Meriam kuno yang digunakan dalam masa peperangan melawan kolonialisme
yang berlangsung pada masa pra-kemerdekaan. Banyak dari Meriam yang ada disini
merupakan peninggalan para tentara belanda yang ditinggalkan pasca perang.
Namun ada juga beberapa Meriam yang merupakan milik kerajaan aceh. Untuk detail
peninggalan Meriam kuno yang ada disini kita lihat di bawah ini :
1.
Artilery
Artillery
jenis ini merupakan yang terkecil dapat ditemukan pada daerah komplek gedung
juang ini. Bentuknya yang kecil dan roda yang mendukung mobilitas yang ada pada
artillery ini membuat senjata ini dapat dengan mudah di pindah pindahkan ke
berbagai lokasi. Bahan yang utama dari artillery ini merupakan besi dan
tembaga.
Tim
penulis dan mobile artillery berukuran sedang.
Pada lokasi ini juga terdapat artillery yang berukuran sedang
. laras yang dimiliki pada artillery ini ada beberapa buah. Yang digunakan
untuk berbagai hal. Seperti penembak bom, dan senapan gatling. Bahan yang
merupakan besi dan tembaga membuat artillery ini semakin berat. Sehingga untuk
memindahkan nya membutuhkan mobil ini menariknya.
Artillery Laras Panjang berukuran besar
Artillery
ini merupakan unit mobile yang paling besar yang ada di komplek ini. Dengan
panjang lebih dari 3 meter membuat alat ini menjadi artillery yang selalu harus
di Tarik oleh mobil-mobil atau panser militer untuk memindahkannya.
Meriam anti pesawat terbang
Meriam ini
merupakan Meriam anti pesawat terbang, ini terlihat dari keempat kaki yang
dimiliki olehnya dan tidak adanya ban yang ada pada alat ini. Alat ini dalam
penggunaannya biasanya diikat dengan baut ke pada lantai benteng. Meriam yang
satu ini memiliki ukuran sama dengan Meriam mobile artillery kecil.
2.
Meriam Kapal

Meriam Kapal laut
Jenis
Meriam yang satu ini memiliki panjang 5 meter dan tidak memiliki roda, Meriam ini
digunakan pada salah satu kapal perang belanda yang menginvasi benteng-benteng
laut kerajaan aceh. Bahan utamanya merupakan campuran besi dan tembaga.
Meriam kuno abad 15
Meriam jenis ini merupakan peninggalan terlama yang ada di komplek gedung juang ini. dimana dapat dilihat dari bentuk meriam yang berbeda dengan bentuk meriam sebelumnya. diperkirakan meriam ini merupakan peninggalan kerajaan aceh dari abad 15. Dari erosi yang terjadi pada meriam ini, menunjukkan bahwa meriam ini dibiarkan berada di ruangan terbuaka dalam jangka waktu yang lama. Sehingga banyak membentuk lubang lubang bekas tetesan air hujan yang ada pada tubuh meriam ini.
ketika suatu negara melakukan sebuah expedisi ke negara lain sering kali negara tersebut melakukan tindakan yang melanggar norma yang ada pada daerah tersebut. sehingga terpicu-lah konflik yang memakan korban jiwa. Dengan melakukan expedisi, suatu negara membawa serta budaya dan ajaran agamanya untuk berkembang pada daerah jajahannya. Perubahan budaya yang diterima oleh penduduk lokal juga akan membuat sejarah yang baru dan berbeda dari keadaan daerah tersebut sebelumnya, perubahan ini dapat bersifat membangun maupun merusak.
Sejarah Pandai Besi
Ilustrasi Aceh tempo dulu
Dalam sejarah kuno aceh, telah terjalin hubungan diplomatik antar aceh dengan turki sejak abad ke 16. Utusan Aceh kali pertama datang ke Istanbul pada 1562. Mereka meminta bantuan senjata berupa meriam. Terkesan dengan utusan Aceh ini, sultan yang berkuasa saat itu, Sulaiman I, mengirimkan meriam beserta teknisinya serta seorang diplomat bernama Lutfi Bey. Antusiasme Aceh ditanggapi positif oleh Sultan Sulaiman I. Dia memerintahkan angkatan lautnya untuk mengirim armada sebanyak 15 kapal layar ke Aceh yang bermuatan prajurit, penasehat militer, teknisi meriam, juga tukang-tukang seperti penambang, pandai besi, dan pandai emas. Karena adanya kekacauan di yaman maka hanya dua buah kapal yang tiba di Aceh tanpa membawa senjata. Kedua kapal itu membawa sekelompok pedagang dan teknisi meriam, yang tidak cukup untuk memuluskan rencana Sultan Al-Kahar menyerang Portugis di Malaka pada 1570. Dengan sampainya para pengrajin dan teknisi meriam ini tidak menutup kemungkinan kedepannya aceh memiliki pusat perindustrian yang disebut dengan "Gampong Pande".
Pengrajin besi dan emas gampong pande
John Anderson seorang penjelajah Eropa pada tahun 1823 M mencatat dalam bukunya berjudul Acheen ia menulis, orang Aceh bukan hanya mahir dalam pelayaran namun mereka juga dikenal pembuat kapal dari hasil industrinya sendiri. Mereka telah berhasil membuat kapal dagang maupun kapal perang yang amat besar. Pekerjaan itu dilaksanakan di pusat industri Kampung Pande. Sementara itu para pandai besi mampu membuat segala jenis barang dari besi termasuk barang-barang besar seperti pisau, keris, ujung tombak dan senjata-senjata lainnya. Agustin De Beaulieu yang tiba di Aceh tahun 1621 M menyatakan sangat sulit rasanya menemukan barang-barang seperti itu dengan kualitas lebih baik ditempat lain. di sana ada juga para pelebur artileri yang melebur berbagai macam peralatan dari tembaga seperti lilin, lampu dan mangkuk. Mereka juga berpengalaman dalam menggunakan mesin bubut untuk memotong tembaga dan kayu. Saat itu, Sultan Iskandar Muda sendiri mempunyai tiga ratus pandai besi yang di tempatkan di Gampong Pande.
Sumber :








Leave a Comment